Bab 2 Argumen Kuat
Setelah itu terdengar suara gaduh yang samar, dan bagaimana pun juga, telinga Chu Yixin merasa itu sama sekali bukan Zhang Ma ataupun Chen Yanrun yang kembali lagi, sehingga kegelisahan di hatinya kian menjadi-jadi.
Ia menggigit bibirnya pelan, hatinya kalut, namun tak sepenuhnya kehilangan akal. Ia hanya berpikir sejenak, lalu segera mendapatkan cara yang tepat.
Dengan tergesa-gesa Chu Yixin menyingkap selimut, lalu bergegas mengganjal pintu kamarnya, khawatir penjahat di luar akan menerobos masuk sebelum ia selesai bersiap.
Sekitar waktu sebatang hio terbakar, orang di luar mencoba-coba pintu. Melihat di dalam ruangan begitu sunyi, keberaniannya pun bertambah. Pintu kamar yang diganjal memang agak sulit dibuka, tapi tak terlalu sulit baginya.
Begitu pintu terbuka dengan suara berderit, langkah kaki itu perlahan mendekat. Di bawah cahaya rembulan yang menerobos masuk, orang itu mengamati seisi ruangan, dan mendapati di tengah-tengah balok atap tampak sesuatu tergantung, sesekali bergoyang ke sana kemari.
Orang itu melangkah mendekat, menyipitkan mata memeriksa, bahkan mengulurkan tangan untuk meraba. Namun yang dirabanya ternyata selembut daging manusia, bahkan masih terasa hangat. Ia mengikuti bayang samar di depannya, menengadah ke atas, dan tepat bertemu dengan sorot mata Chu Yixin yang membelalak.
Terdengar jeritan kaget seorang pria, suara yang familiar itu membuat Chu Yixin menggali ingatan yang bukan miliknya, hingga ia mengenali identitas orang tersebut.
Bukankah ini si Ma Liu, preman terkenal di desa?
Ma Liu mengira Chu Yixin kembali mencoba gantung diri, ia ketakutan hingga mundur terbirit-birit, tanpa sengaja menabrak bangku di dalam kamar, lalu terperosok tepat ke dalam perangkap yang sudah disiapkan Chu Yixin.
Hanya dalam sekejap, Ma Liu sudah tergantung terbalik, berteriak-teriak histeris hingga seisi ruangan gaduh oleh ulahnya.
Namun Chu Yixin sama sekali tak khawatir Ma Liu bakal bisa melepaskan diri, sebab simpul tali yang digunakan adalah simpul yang ia pelajari dari seorang pemburu tua semasa hidupnya sebelum meninggal.
Asal talinya kuat, bahkan beruang hitam pun belum tentu bisa melepaskan diri, apalagi Ma Liu yang malas dan bertubuh gemuk?
Chu Yixin menyipitkan mata memandang, melihat celana Ma Liu basah menguning, dan bau pesing yang menguar di ruangan membuatnya tahu preman itu ketakutan sampai mengompol. Ia mengerutkan kening, lalu melepaskan ikatan tali di pinggangnya, membuat tubuh Ma Liu mendarat dengan mantap di lantai.
Berkat remang cahaya malam, tali itu pun tak mudah diketahui dan tak terlanjur terlihat oleh Ma Liu.
Chu Yixin kemudian menggulung tali itu dan menggenggamnya erat, melangkah mendekati Ma Liu. Ekspresi wajahnya penuh ejekan, ia berkata dengan nada mencemooh, “Larut malam begini, kau menerobos kamar janda muda seperti aku, apa kau mau menemani ngobrol semalaman?”
Ma Liu mengira orang di depannya memang Chu Yixin yang dikenalnya, sekaligus sadar telah masuk perangkapnya. Ia sama sekali tak takut, malah berkata genit, “Nona muda, tak usah berpura-pura lagi, lepaskan aku, jangan main-main! Malam masih panjang, biar aku manjakan kau! Lihat wajahmu itu, benar-benar membuatku tergila-gila!”
“Sampai tergila-gila?” Chu Yixin tersenyum tipis, mengangkat kaki kursi di samping, lalu mengayunkannya di depan Ma Liu. “Dari raut wajahmu, aku tak melihat ada rasa suka. Bagaimana kalau aku bantu kau sedikit?”
Begitu kata-katanya selesai, kaki kursi itu langsung diayunkan Chu Yixin dan menghantam selangkangan Ma Liu.
Kali ini Chu Yixin benar-benar memilih posisi yang tepat, tak sampai membuat Ma Liu cacat seketika, tapi kalau tak segera diobati, bisa jadi itu hanya soal waktu.
Teriakan kesakitan pria itu begitu memilukan. Chu Yixin memanfaatkan kesempatan untuk melempar kaki kursi itu ke bawah ranjang. Tak lama kemudian, cahaya obor menyala di luar rumah, dan derap kaki orang-orang mendekat ke arah Chu Yixin.
Melihat waktunya sudah pas, Chu Yixin langsung duduk di lantai, memeras beberapa tetes air mata di pelupuk matanya, tampak begitu menyedihkan.
Orang-orang di luar segera menyerbu masuk, pertama-tama melihat Ma Liu yang tergantung terbalik dengan wajah pucat, lalu Chu Yixin yang terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu.
Pemimpin mereka adalah kepala keluarga Chen dari desa.
Rambutnya sudah memutih, wajahnya dipenuhi keriput, usianya sudah lanjut, namun wibawanya masih terasa kuat. Hanya dengan tatapan tajam, Ma Liu pun langsung bungkam, menahan diri hingga berkeringat dingin.
“Apa yang terjadi di sini?” Kepala keluarga itu bertanya pada Ma Liu, namun matanya justru menatap Chu Yixin.
“Kepala keluarga, dia... dia menerobos kamarku di tengah malam...” Chu Yixin hampir menangis, Ma Liu buru-buru membelalakkan mata dan berteriak memotong, “Omong kosong! Dasar perempuan jalang, kau gagal merayu adik iparmu, kini kau rayu aku, menipuku masuk ke kamar, setelah aku tak mau, kau bermain sandiwara lagi!”
Gosip tentang merayu adik ipar, meski hanya rumor, namun telah menyebar luas di desa, bahkan begitu detail hingga orang-orang percaya setengahnya.
Kepala keluarga mendengarnya, raut wajahnya pun berubah masam. Semula ia hendak membela Chu Yixin, namun kini berubah pikiran dan menegur Chu Yixin dengan nada keras, “Kau sudah menikah jadi wanita keluarga Chen, meski muda sudah jadi janda, apa kau tak tahu mana yang pantas dan tidak pantas dilakukan, Chen Chushi?”
Teguran dan peringatan itu sangat jelas, meski hanya rumor, saat ini seolah-olah Chu Yixin sungguh-sungguh telah merayu adik iparnya.
Chu Yixin merasa tidak terima dan marah, ia membuka mulut hendak membela diri, namun seorang perempuan muda berbintik-bintik di wajahnya lebih dulu bicara, “Kepala keluarga benar, sudah jadi istri orang harus tahu diri. Sekalipun nasib buruk jadi janda, tetap harus menjaga diri, jangan melakukan hal-hal tak senonoh yang mempermalukan keluarga Chen.”
“Ini urusan para pria, apa hakmu perempuan cerewet ikut bicara!” Ucapan itu memang kasar, tapi nada suaranya sama sekali tak terdengar menegur. Pria jangkung yang menegur perempuan itu malah mencubit pinggangnya, “Kepala keluarga jangan diambil hati, salahku tak bisa menjaga istriku sendiri.”
Mereka saling mendukung, tapi Chu Yixin hanya memandang dingin.
Entah mengapa, orang-orang ini begitu senang menjelek-jelekkannya. Dari ingatan yang berserak pun, terlihat bahwa Chu Yixin yang lain itu aslinya tak buruk, bahkan ramah dan sopan.
Dengan sikap seperti itu, bagaimana mungkin ia menyinggung orang lain? Besar kemungkinan ini hanya bencana tanpa sebab.
Seperti juga fitnah soal adik ipar, pasti ada orang jahat yang sengaja menyebarkan, tak ingin melihat seorang janda muda hidup dengan tenang.
Fitnah tanpa sebab seperti ini benar-benar kejam.
“Wah, cepat turunkan aku, semua ini gara-gara perempuan kejam ini menggoda aku!” Ma Liu memaki, rasa kebas di selangkangannya membuatnya panik, tapi ia pun malu untuk mengakuinya.
Sudah cukup dipermainkan oleh perempuan lemah, kini malah... terluka di bagian itu.
Sungguh memalukan.
Orang-orang beramai-ramai hendak menurunkan Ma Liu, tapi simpul pada tali itu tak bisa dibuka.
Kepala keluarga memberi isyarat, orang-orang pun memberi jalan. Begitu simpul tali itu terpampang di depan mata, kepala keluarga pun mengernyitkan dahi, lalu berbalik menatap Chu Yixin, “Simpul ini kau yang buat?”
Chu Yixin menggeleng. Ia tak sebodoh itu untuk mengaku, “Simpul dan perangkap ini, semua peninggalan adik ipar. Di rumah ini hanya aku seorang janda muda, tentu saja rawan jadi sasaran penjahat, jadi adik iparku memasangnya.”
Belum selesai bicara, Chu Yixin mengeluarkan sebilah belati kecil dari lengan bajunya. Kepala keluarga tetap tenang, namun perempuan muda itu menjerit, “Apa yang kau lakukan?! Berani-beraninya mengancam kepala keluarga?!”
Fitnah itu begitu jelas, kepala keluarga hanya mengelus janggut putihnya, menunggu Chu Yixin bicara.
“Kakak ipar, kau mengira aku siapa? Belati ini... kalau memang sampai saat itu, lebih baik aku mati daripada menodai kehormatan, aku akan menyusul suamiku yang telah tiada…”
Sambil bicara, mata Chu Yixin memerah, ia menahan air mata yang hendak jatuh, menggigit bibir, dan menggenggam kuat belatinya hingga buku-buku jarinya memutih.
Perban di lehernya baru terasa keberadaannya, mengingatkan semua orang pada peristiwa siang hari ketika Chu Yixin mencoba bunuh diri demi membuktikan dirinya tak bersalah.
Melihat orang-orang mulai iba, Chu Yixin kembali membela diri, “Kepala keluarga, jika aku benar-benar ingin... melakukan perbuatan kotor, mana mungkin aku memilih melakukannya setelah selamat dari maut? Aku hanya perempuan lemah, sedangkan Ma Liu pria dewasa yang kuat, masa aku bisa dihukum hanya dengan ucapannya? Ma Liu masuk ke halaman secara diam-diam, pasti ada jejak kakinya di tembok, pintu kamarku pun kuganjal rapat, jika ia memaksa masuk, pasti ada bekasnya juga. Lagi pula, tuduhan Ma Liu bahwa aku menggoda dia, apa ada buktinya?”
Uraiannya kali ini penuh kebencian terhadap Ma Liu, juga kesedihan karena difitnah tanpa alasan oleh orang-orang.
Bahkan kepala keluarga yang sudah berpengalaman pun percaya sebagian.
“Chen Chushi, soal malam ini…” Kepala keluarga belum selesai bicara, Chu Yixin sudah menggeleng.
Air mata yang tadi tertahan akhirnya jatuh membasahi pipi, Chu Yixin menarik napas panjang, lalu berlutut di hadapan kepala keluarga, berkata tegas, “Kepala keluarga, mohon tegakkan keadilan untukku! Setiap kata yang kuucapkan adalah kebenaran, jika ada dusta, biarlah aku disambar petir! Aku hanya… ingin hidup dengan bersih, menjalankan kewajiban sebagai istri dan menuntaskan semua tanggung jawabku. Siapa sangka Ma Liu menindasku di saat suamiku tiada, apalagi aku tak punya keluarga untuk berlindung…”
Nyaris setiap kata Chu Yixin diucapkan dengan penuh penekanan, air matanya menetes seiring ucapannya.
Ia tampil seolah tak menginginkan apa pun selain membersihkan namanya. Ia pun tak mau menanggung fitnah yang tak beralasan itu.
Tatapan kepala keluarga pun menajam, ia seperti berpikir, lalu menghentakkan tongkatnya ke lantai dengan keras, menatap tajam ke arah Ma Liu, “Berani mengincar wanita keluarga Chen, bahkan menodai kehormatannya, Ma Liu, kau benar-benar kelewatan! Akan dihukum tiga puluh kali cambuk menurut aturan keluarga.”
Masuk ke kamar janda muda di tengah malam, lalu memfitnah kehormatannya, hanya dihukum tiga puluh cambuk?
Chu Yixin sangat tidak puas, namun melihat tali yang mengikat Ma Liu akhirnya dipotong, begitu jatuh ke lantai, Ma Liu hendak lari, tapi langsung disergap orang-orang yang sudah bersiap, bajunya ditarik, suara Ma Liu sampai menangis, “Ampuni aku, kepala keluarga, tiga puluh cambuk bisa membunuhku, ini... ini…”
“Seret dia keluar!” Kepala keluarga membentak dingin, Ma Liu langsung dibungkam dan diseret keluar rumah. Setelah itu, ekspresi kepala keluarga sedikit melunak, “Soal hari ini, biarlah berlalu. Kalau suatu hari kau kembali difitnah dan tak ada yang membela, datanglah padaku.”
Chu Yixin segera mengucapkan terima kasih. Setelah para warga pergi, ia melihat Zhang Ma bersembunyi di ambang pintu. Zhang Ma tampak lega, namun tak mendekat untuk menghiburnya, hanya kembali menutup pintu rapat-rapat.