Bab 46 Tanahnya
Yuan Yuan berkata, "Tidak, tadi aku hanya mencoba gaun baru, rasanya sangat indah. Aku sudah lama sekali... Maksudku, sebelumnya aku tidak pernah mengenakan gaun terusan, tidak menyangka rasanya akan seperti ini."
Mendengar itu, Dong Yuehe tersirat senyuman: "Semua orang pasti menyukai keindahan, itu hal yang sangat wajar! Guru baru di sekolah kami, lulusan sekolah guru, usianya tidak jauh darimu, setiap hari mengenakan gaun terusan, sangat cantik."
Yuan Yuan tersenyum kecil dan berkata, "Tunggu sampai aku menghasilkan uang, aku akan membelikan diriku banyak sekali gaun baru."
Dong Yuehe berkata, "Baguslah kalau begitu. Nanti Guru akan membantumu memilihkan!"
Melihat Dong Yuehe kelelahan karena mengoreksi PR, melepas kacamata lalu memijit-mijit matanya, Yuan Yuan meletakkan buku di tangannya, berjalan mendekat dan berkata, "Guru, biarkan aku membantumu..."
Mengenakan kembali kacamata di wajahnya, Dong Yuehe tersenyum tipis: "Baiklah. Tetap saja Yuan Yuan kami yang paling penurut. Ngomong-ngomong, kamu sedang berpacaran dengan si A-Zhou di rumahku, apakah dia ada merundungmu?"
Yuan Yuan tertegun mendengar pertanyaan itu, lalu buru-buru menggelengkan kepala: "Tidak, tidak ada. Tidak ada hal seperti itu."
Dong Yuehe berkata, "Anak itu tempramental, jika dia merundungmu, kamu harus memberi tahu Guru, ya."
Suara sang guru begitu penuh kasih dan lembut, membuat hati Yuan Yuan terasa hangat, ia pun berkata, "Tidak ada. Jiang Zhou sangat baik."
...
Memanfaatkan sisa beberapa hari cuti kunjungan keluarga Jiang Zhou, Yuan Yuan memutuskan untuk memeras tenaganya sekali lagi.
"Jiang Zhou. Ayo, temani aku melihat lahan baruku yang baru disewa?"
Jiang Zhou: "???"
Ini adalah pertama sepanjang sejarah, dia berinisiatif mengajaknya pergi? Meletakkan komponen antena tulang ikan di tangannya, Jiang Zhou dengan senang hati menyetujui: "Baiklah."
Ia bangkit berdiri, lalu menepuk pemuda di sampingnya: "Qiu Xing, aku serahkan ini padamu, ya!"
Qiu Xing: "??? Hei! Kamu sendiri tidak mau mengerjakannya? Bukannya tadi bilang mau belajar??"
Jiang Zhou membelakanginya sambil melambaikan tangan: "Aku sudah bisa!"
Qiu Xing: "Ha??"
Melihat Jiang Zhou berjalan dengan langkah tegap menghampiri Yuan Yuan, dua orang pekerja pembantu di samping berkata kepada Qiu Xing, "Ketua, rekan seperjuanganmu itu sedang membual, ya? Merakit dan memasang kabel, bahkan kamu yang punya sertifikat dan berpendidikan saja butuh waktu tiga bulan untuk mempelajarinya, dia baru ikut selama setengah hari, sudah bisa?"
Terdiam sejenak, Qiu Xing memungut sehelai kabel di tanah, melihat ujung sambungan kabel yang rapi dan indah—itu adalah hasil karya Jiang Zhou... Qiu Xing bergumam pelan, "Tidak, Jiang Zhou tidak pernah membual. Bajingan ini benar-benar sudah bisa. Tidak, tunggu, bahkan jika belum sepenuhnya bisa, dia setidaknya sudah menguasai delapan puluh persennya."
Sungguh menakutkan, kemampuan belajar pria ini begitu luar biasa tangguh.
Pantas saja belum genap setahun masuk militer, dia sudah menjadi sosok yang menjadi pusat perhatian dan disegani banyak orang!
"Jadi pertanyaannya adalah..." Qiu Xing mau tidak mau memanjangkan lehernya, melirik ke arah gerbang halaman, "Sebenarnya siapa orang suci sakti mana, sampai-sampai Tuan Jiang kita pun bisa dipanggil hanya dengan satu patah kata?"
Pekerja pembantu itu tersenyum nakal: "Seorang gadis! Tubuhnya lumayan tinggi!"
Qiu Xing terkejut: "Gadis?!"
Dia menarik punggungnya ke belakang secara taktis untuk menyesuaikan sudut pandang demi bisa melihat, tetapi yang tertangkap oleh matanya hanyalah punggung Jiang Zhou yang sedang membonceng seorang gadis dengan sepeda.
Yuan Yuan sempat menoleh ke belakang: "Itu anak Paman Qiu? Kamu bilang kalian adalah rekan seperjuangan, kukira dia masih di militer sepertimu."
Jiang Zhou berkata, "Dia sudah pensiun dan kembali, ditempatkan di biro telekomunikasi sebagai teknisi, dan sekarang sudah menjadi ketua kelompok teknisi. Paman Qiu sangat pusing, restoran miliknya tidak ada yang mewarisi. Tapi biro telekomunikasi adalah mangkok nasi besi, terjepit di antara dua dilema. Ayah dan anak itu sedang saling berdebat. Qiu Xing bilang, dia sudah muak dengan wajan dan panci itu, bahkan jika nanti tidak bekerja di biro lagi, dia tidak akan berurusan dengan dunia kuliner lagi, dia ingin berurusan dengan komponen elektronik."
Pihak yang berbicara tidak punya maksud lain, tetapi Yuan Yuan justru bersorak gembira: "Eh, bagus sekali kalau begitu! Dua puluh tahun ke depan pasti akan menjadi dunianya elektronik, berkecimpung di bidang itu bisa menghasilkan banyak uang! Semakin cepat terjun ke lautan bisnis, semakin cepat pula memulainya, itu hal yang sangat bagus!"
Ini adalah pengetahuan umum yang diketahui semua orang di masa depan, dan saat ini dia sengaja sedikit memberikan petunjuk. Selagi memiliki teknologi dan koneksi, mengapa tidak pergi ke Shenzhen untuk mencoba peruntungan?
Jiang Zhou memperlambat laju sepedanya dan berkata perlahan, "Yuan Yuan, pikiranmu banyak sekali, ya? Baru saja menyewa lahan, lahannya pun belum sempat dipahami dengan benar, pikiranmu sudah terbang ke Shenzhen sana?"
Yuan Yuan tidak melihatnya, tetapi ada sedikit rasa dingin dan kecewa di dasar mata pria itu. Namun ia dapat mendengarnya, senyuman di sudut bibirnya memudar: "Jiang Zhou, bicaralah langsung jika ada yang ingin dikatakan."
Pria itu berkata, "Memiliki gagasan memang hal yang bagus, tetapi di dunia ini tidak pernah ada pepatah yang bisa mendapatkan ikan dan cakar beruang secara bersamaan. Sebagai... seorang teman, aku ingin menasihatimu lebih, janganlah kamu bersikap muluk-muluk dan ambisius seperti orang itu."
Yuan Yuan terdiam sejenak, "Kamu bisa langsung menyebutkan namanya."
Jiang Zhou berkata, "Namanya tidak penting, aku hanya berharap kamu bisa mendengarkan nasihatku."
"Jiang Zhou. Ayah kandungku sudah lama meninggal dunia. Dan aku tidak berniat mencari ayah baru lagi," kata Yuan Yuan, "Jangan menceramahiku, ya! Aku menganggapmu sebagai teman baik yang sangat, sangat baik!"
Di tengah pembicaraan, ia sudah melompat turun dari boncengan belakang sepeda Jiang Zhou, melangkah lebar-legar berjalan menuju tempat di mana bayangan rumpun bambu berayun lembut.
Jiang Zhou mengerutkan keningnya, mengayuh sepedanya pelan, menjaga jarak agar tetap berdampingan dengannya: "Nona, tempramenmu besar sekali, ya? Aku kan hanya mengucapkan satu kalimat."
Yuan Yuan menoleh dan memberinya tatapan melirik sinis: "Ada nada yang salah dalam kalimatmu itu."
"Manusia hidup di dunia ini selama puluhan tahun, bagaimana mungkin setiap orang dan setiap kalimat yang diucapkan bisa selalu pas di hati?"
"Jiang Zhou, jangan menceramahiku!"
Nada bicara Yuan Yuan sangat ketus, dan langkah kakinya semakin cepat. Jiang Zhou membawa dua roda lebih banyak darinya, sampai-sampai ia harus mengayuh sepedanya untuk bisa mengikutinya. Emosinya pun perlahan terpancing: "Aku ini benar-benar mengkhawatirkanmu!"
"Heh, kalau begitu aku benar-benar berterima kasih padamu!"
Yuan Yuan memilih berlari ke depan, berlari dalam sekali tarikan napas hingga tiba di samping segerombolan bambu hias sebelum akhirnya berhenti. Sambil terengah-engah, ia merogoh saku pakaiannya untuk mengambil dokumen hak atas tanah, mencocokkan penanda dan luas tanah tersebut. Jiang Zhou mengikuti di belakangnya, tampak seperti seekor anjing besar yang patuh.
Yuan Yuan tidak mempedulikannya, ia merasa sangat menyesal, untuk apa tadi dia mengajaknya keluar! Ujung-ujungnya tidak membantu, malah membuat hatinya kesal... Ia pun menundukkan kepalanya, berkonsentrasi mencari penanda lahan, "Mulai dari timur di rumpun bambu hias, barat sampai di bawah hutan pohon he, selatan sampai rel kereta api, utara sampai pintu air nomor dua saluran lingkar gunung, totalnya 10,5 mu. Asyik, bahkan diberi bonus setengah mu lagi, sangat bermurah hati!"
Asyik! Kejutan yang tak terduga!
Setengah mu tanah, itu lebih dari tiga ratus meter persegi!!
Bisa membangun satu baris rumah tambahan!!
Anjing besar dengan ekor terkulai itu mengikuti di sisi Yuan Yuan, melihatnya memegang dokumen hak tanah dan berhenti di bawah naungan bambu, menyipitkan mata sambil menerawang ke sana ke mari, mulutnya juga komat-kamit merapal kata seperti seorang pertapa sakti. Jiang Zhou mencari bahan obrolan: "Apa yang sedang kamu gumamkan?"
Yuan Yuan tidak mempedulikannya. Pria itu mengulanginya sekali lagi dengan gigih, membuatnya terpaksa harus menanggapinya, lalu ia berkata dengan nada datar: "Aku sedang memikirkan, penanda batas lahan di sini terlalu tidak jelas. Sekarang di sebelah lahan ini belum ada orang yang menyewa, jadi tidak masalah. Nanti di masa depan jika ada orang yang menyewa bukit-bukit tandus itu, semuanya akan menjadi tidak jelas. Aku ingin memikirkan cara agar batas wilayah di sini menjadi lebih jelas."
Sampai di sini, ia merasa sedikit kecewa, menatap rumpun bambu yang jarang-jarang itu, lalu berkata, "Mereka selalu bilang lahan di sini adalah kawasan hutan bambu, kukira itu benar-benar hutan bambu. Siapa sangka bentuknya mirip model rambut pria paruh baya, jarang-jarang dan bisa dihitung dengan jari!"