Bab 56: Serahkan Mobilmu Kepadaku Saja
Pistol Tipe 54 adalah pengembangan dari pistol T-33 milik Uni Soviet. Senjata ini diimpor ke Tiongkok pada tahun 1951, dan setelah melalui berbagai perbaikan serta optimasi, mulai diproduksi secara massal pada tahun 1954.
Itulah asal-usul penamaan Pistol Tipe 54.
Dari dekade 1950-an hingga 1990-an, pistol Tipe 54 banyak digunakan sebagai senjata standar militer dan kepolisian. Namun, seiring memasuki abad ke-21, senjata ini secara bertahap mulai dipensiunkan.
Mungkin masih ada beberapa aparat keamanan di daerah yang menggunakan Tipe 54, tetapi itu sama sekali tidak berlaku di Beijing, sang ibu kota.
Oleh karena itu, ketika pria pemimpin itu memperlihatkan senjata api yang terselip di pinggangnya, wajah Dong Zhihua semakin berubah pucat pasi.
Sebelumnya, ia merasa pria ini sedikit tidak waras karena berani menculik orang di Beijing. Namun, saat melihatnya sekarang, ini bukan sekadar sedikit tidak waras, melainkan benar-benar seekor anjing gila!
"Begini... Gu muda, tenangkan diriku dulu. Aku ada urusan sebentar, kau duluan saja ke—"
Gu Zhenlin tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, berikan saja kunci mobilmu padaku, aku akan pulang duluan."
Ucapan itu membuat Dong Zhihua tertegun. Bukankah pemuda ini tadi bilang kalau dia tidak bisa menyetir?
Tanpa memberi Dong Zhihua kesempatan untuk menjawab, Gu Zhenlin melangkah maju. Namun, begitu ia berjarak setengah meter dari pria bertubuh kurus itu, si pria berumus tipis di belakangnya langsung melangkah maju dan menghalangi jalannya.
"Hei! Jauhi bosku!"
Gu Zhenlin menyipitkan matanya. Bos?
Sialan, ini semakin tidak terlihat seperti polisi.
"Uhuk, uhuk! Xiao Pan, bagaimana caramu berbicara kepada rakyat?" Pria bertubuh kurus itu berdehem lalu memberikan sebuah isyarat kedipan mata. "Nanti suruh Lao Yang datang lagi untuk menjemput kita."
Ia tidak ingin memicu konflik dengan Gu Zhenlin.
Sejujurnya, bukan berarti ia belum pernah membunuh pria berbadan besar, tetapi pria berbadan besar hari ini sangat berbeda dari yang pernah ia temui sebelumnya.
Mereka yang ditemuinya dulu bagaikan harimau dan serigala; terlihat ganas, tetapi bisa dijatuhkan hanya dengan satu tembakan.
Pria berbadan besar malam ini memberinya kesan yang lebih mirip dengan seekor ular berbisa, yang sedikit saja kecerobohan bisa membuatnya roboh oleh racun sendiri.
Pria berumus tipis itu menatap bosnya dengan kebingungan, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mundur kembali ke belakang.
Gu Zhenlin berjalan ke hadapan kedua orang itu, menerima kunci dari tangan Dong Zhihua yang tampak masih sedikit kebingungan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pria kurus pemimpin kelompok tersebut.
"Bapak Polisi, Anda harus menginterogasinya baik-baik. Tengah malam begini malah menyelinap keluar untuk minum di belakang istrinya, dia ini jelas bukan orang baik."
Pria kurus itu tersenyum tipis. "Kami hanya menjalankan tugas resmi."
"Ah, salahku, salahku. Seharusnya aku tidak berkelakar kepada abdi negara." Gu Zhenlin menepuk mulutnya dengan gestur menyesal, lalu mengulurkan tangannya. "Benar-benar minta maaf ya, Bapak Polisi."
Tangan ini benar-benar besar sekali...
Pikiran itu melintas sekilas di benak pria kurus tersebut saat ia menyambut uluran tangan Gu Zhenlin. "Kami semua melayani rak—"
Kata "yat" itu bahkan belum sempat diselesaikan ketika tangan besar lawannya tiba-tiba mencengkeram dengan kuat. Rasa sakit luar biasa langsung menghantam, seolah-olah tulang-tulang jarinya diremukkan hingga menjadi bubuk.
Mata pria kurus itu melotot lebar hingga nyaris pecah, lalu ia mengeluarkan sebuah bentakan.
"Panzi!"
Ekspresi pria berumus tipis berubah drastis. Ia langsung menarik pisau kecil dari pinggangnya dan melayangkannya ke arah Gu Zhenlin.
Gu Zhenlin mendongakkan kepalanya ke belakang, dan di saat bersamaan ia menarik tangannya. Sifat "krak" terdengar jelas saat salah satu lengan pria kurus itu ditarik hingga terkilir.
"Keparat kau! Lepaskan!"
Tepat saat ia mencopot sebelah lengan lawannya, sebuah lubang laras senapan yang hitam pekat tiba-tiba diarahkan tepat kepadanya.
Jalur Yinwei, terbuka!
Pikiran itu melintas secepat kilat, dan aliran hawa panas kembalimelonjak naik dengan deras.
Fungsi tubuhnya meningkat secara menyeluruh. Dengan kecepatan yang jauh lebih gesit dari sebelumnya, Gu Zhenlin melompat dan melayangkan tendangan tinggi yang kuat.
Tendangan itu menyisakan bayangan samar di tengah kegelapan malam. Tepat saat pria kurus itu merasakan embusan angin menyambar, ia langsung menarik pelatuknya.
"Duar!"
Tembakan itu entah sudah membangunkan berapa banyak orang di Sanlitun. Bahkan pria berumus tipis yang tadinya menyerbu dengan pisau ikut tertegun dan menarik kepalanya karena terkejut.
Selepas suara tembakan, terdengar bunyi benda jatuh membentur tanah.
Tendangan itu mendarat tepat di pergelangan tangan pria kurus tersebut, membuat peluru melesat tipis dan menyerempet helaian rambut Gu Zhenlin.
Kemenangan dalam duel antara para ahli sering kali ditentukan dalam hitungan detik. Saat pria kurus itu hendak memungut senjatanya yang terjatuh, Gu Zhenlin merangsek maju, mengubah tangannya menjadi cengkeraman setengah melingkar, lalu mengayunkannya membentuk setengah lingkaran dan menghantam telinga lawannya dengan deras.
"Plak!"
Satu cengkeraman telak itu membuat pria kurus tersebut merasa seisi otaknya berputar hebat.
Ia merasa telinganya tiba-tiba menjadi jauh lebih lega, seolah-olah... seluruh kotoran telinganya langsung bersih seketika?
Ia sudah sering mengunjungi berbagai tempat pijat besar, tetapi tidak pernah merasakan layanan pembersihan telinga yang begitu luar biasa bertenaga.
Namun sedetik kemudian, aliran cairan hangat mengalir dari lubang telinganya menuruni pipinya.
Gendang telinganya telah pecah.
Di saat otaknya masih linglung, Gu Zhenlin telah merebut senjata di tangannya, dan sebuah tinju sebesar karung pasir langsung menghantam batang hidungnya.
"Bugh!"
"Ada apa di luar sana!"
"Siapa yang membuat keributan di Baohao milik kami!"
Seorang pelayan bar dari Bar Baohao berlari keluar bersama sekelompok pria berjas tegap. Ketika mereka menyorotkan senter, yang terlihat justru Gu Zhenlin sedang memegang kerah seorang pria yang terkulai lemas dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah pistol Tipe 54.
Pelayan bar itu hampir mengompol karena ketakutan, dan ia langsung berjongkok untuk memunguti daun-daun di tanah.
"Bos Besar, kami ini hanya keluar untuk membersihkan sampah di jalanan, berusaha agar tidak menambah repot para petugas kebersihan."
"Hei, hei, sudahlah, sudah."
Gu Zhenlin mengerutkan kening sambil melambaikan tangan kanannya ke arah mereka. Setiap kali tangan itu melambai, si pelayan bar dan para pria berjas tersebut bergidik ngeri, takut jika senjata api di tangan sang tuan muda itu meletus secara tidak sengaja.
"Kalian pikir aku ini perampok biadab atau apa? Cepat panggil polisi sana."
"Baik, saya akan segera menelepon sekarang juga."
Pelayan bar itu tidak membuang waktu dan langsung menghubungi pihak kepolisian.
Tidak peduli dari faksi mana pria mengerikan ini berasal, yang jelas dia bukanlah seseorang yang sanggup mereka hadapi.
Gu Zhenlin menoleh ke samping, memandangi pria berumus tipis yang memegang pisau—ragu-ragu antara ingin kabur atau tetap tinggal—lalu menyunggingkan senyum lebar.
"Mau pergi ya?"
"Aku... anu..."
"Berlututlah yang benar. Aku mengidap penyakit Parkinson, tanganku gemetar."
Tanpa pikir panjang, pria berumus tipis itu langsung melempar pisaunya dan berlutut di atas tanah.
"Kak Dong, kau tidak apa-apa?"
Gu Zhenlin menoleh ke arah mobil. Dong Zhihua yang bersandar di kaca spion mobil tampak bermandi keringat dingin hingga dahinya memantulkan cahaya.
Dengan tubuh gemetar, ia bangkit berdiri, sementara matanya dipenuhi oleh rasa ngeri yang mendalam.
Merebut senjata dengan tangan kosong?
Sialan, ini jauh lebih menakutkan daripada merebut pedang tajam dengan tangan kosong!
Tembakan yang baru saja menyerempet rambut Gu Zhenlin tadi hampir membuat Jantungnya copot karena serangan jantung.
"Aku... aku baik-baik saja..."
Menyeka keringat dingin di dahinya, detak jantung Dong Zhihua masih belum kembali normal.
"Bagaimana, sekarang kau percaya dengan ucapanku tadi?" Gu Zhenlin menyalakan sebatang rokok. "Di luar jarak tujuh langkah, senjata api itu cepat; di dalam jarak tujuh langkah, aku yang lebih cepat."
"Percaya, aku sangat percaya." Dong Zhihua mengangguk penuh semangat. Jangankan dalam jarak tujuh langkah dia lebih cepat sekarang, jika Gu Zhenlin bilang dia bisa menangkap bom atom dengan tangannya pun, dia akan percaya.
"Kalau begitu, kapan mobilmu akan kau berikan kepadaku?"
Dong Zhihua tertegun. "Mobil apa?"
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia teringat akan ucapannya sendiri dalam perjalanan menuju bar tadi.
"Jika kita bisa bertemu perampok di bawah bayang-bayang kota kekaisaran ini, mobilku kuberikan secara cuma-cuma padamu."
Setelah menggoda Dong Zhihua sejenak, Gu Zhenlin berbalik dan menampar wajah pria kurus itu dua kali, hingga berhasil membangunkan pria yang tadinya pingsan tersebut.
"Hei, bangun. Berani-aninya tengah malam datang dari Beijing untuk merampok orang dengan senjata api, hebat sekali nyalimu ya."
Pria kurus yang terbangun karena tamparan itu menggunakan satu-satunya telinganya yang masih berfungsi untuk mendengarkan ucapan Gu Zhenlin dengan jelas.
"Wang Lihua."