Bab 43: Takut Darahmu Memercik ke Pakaianku
Wasit itu berhenti sejenak, "Tapi, aku sarankan kau..."
"Baiklah, kalau begitu sistem tiga babak dua kemenangan."
Melihat ekspripsi Gu Zhenlin yang tampak begitu antusias, sang wasit pun merasa kebingungan.
Apakah orang ini mata duitan, atau benar-benar ingin menghajar pria kulit putih itu hingga bertekuk lutut?
Zhou Chunlei yang berada di bawah panggung masih terus merengek dan merepotkan Yao Runan, namun tatapan lelaki tua itu justru terpaku pada sosok Gu Zhenlin di atas panggung.
Kekuatan lengket Taiji, kuncian kuda-kuda dan bantingan Hongquan... pemuda ini sungguh menarik.
"Pemuda ini berlatih aliran apa?"
"Ah, Guru Gu berlatih berbagai macam aliran bela diri. Taiji, Hongquan, Bajiquan, Xingyiquan, semuanya pernah ia pelajari."
Yao Runan sedikit memiringkan kepalanya. "Dia juga berlatih Xingyiquan?"
"Aku yang mengajarkannya."
"Bagaimana kemampuannya?"
"...Seperti mendapat bantuan dewa." Ekspresi Zhou Chunlei tampak sedikit rumit. "Rasanya... seolah-olah ada seseorang yang selalu menemaninya bertarung sungguhan setiap hari."
Seni bela diri tradisional membutuhkan latihan jangka panjang yang harus ditempa selama bertahun-tahun. Namun, di era yang damai ini, di mana bisa ditemukan bandit dan perompak di mana-mana seperti di masa lampau?
Oleh karena itu, sebagian besar praktisi bela diri kekurangan pengalaman tempur yang nyata.
Ketidakmampuan untuk mengubah "keterampilan" menjadi "daya pukul" inilah yang menyebabkan seni bela diri tradisional sering dianggap "tidak layak naik ke atas ring". Inilah pula alasan mengapa Yao Runan menginisiasi pertarungan dan pertukaran antarpemuda.
Gu Zhenlin di atas panggung telah bersiap untuk ronde kedua, namun pria kulit putih itu tiba-tiba berbalik dan berjalan pergi, berdalih ingin ke toilet terlebih dahulu.
Sorohan cemoohan terdengar dari penonton di bawah panggung.
Gu Zhenlin menunggu di atas panggung selama sekitar seperempat jam sebelum sosok pria kulit putih itu akhirnya muncul kembali.
Dibandingkan sebelumnya, aura ketajamannya tampak jauh lebih meningkat.
Begitu naik ke atas ring, ia memberikan gestur menyayat leher kepada Gu Zhenlin.
Seiring dengan bunyi peluit dari wasit, ronde kedua pun dimulai.
Pria kulit putih itu kembali menggunakan gerakan menghindar pendulum untuk mendekat, lalu melancarkan rentetan pukulan *hook*.
Gu Zhenlin berniat mengulangi trik yang sama, namun pukulan lawannya kali ini sedikit lebih cepat daripada sebelumnya. Pukulan itu dengan presisi menerobos tangkisan tangannya, memaksa Gu Zhenlin menahan serangan tersebut dengan lengan bawahnya secara mentah-mentah.
Begitu mereka menjaga jarak, kedua lengan bawahnya terasa bagaikan ditusuk-tusuk jarum.
Gu Zhenlin menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah pria kulit putih yang bernapas berat itu, sementara perasaan ganjil merayapi hatinya.
Kecepatannya meningkat, dan kekuatan pukulannya juga jauh lebih kuat dari sebelumnya... Apakah di babak sebelumnya dia belum mengeluarkan seluruh tenaganya?
Tidak, napasnya juga menjadi semakin terengah-engah...
Pikiran itu melintas sekilas, dan sang pria kulit putih kembali menerjang maju dengan beringas. Pukulan bertubi-tubi bagaikan badai hujan langsung mendesak Gu Zhenlin ke sudut ring.
"Ada yang tidak beres..." Yao Runan di bawah panggung mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Sejak kapan bule ini bisa bertarung sehebat itu?"
Zhou Chunlei bahkan terlihat begitu cemas hingga wajahnya membiru. Jika sampai terjadi sesuatu pada Gu Zhenlin, bisa dipastikan Jiang Xin akan mengajaknya bertarung nyawa.
"Guru Yao, apakah orang asing ini bermasalah?"
"Seharusnya setelah bertarung dua belas ronde berturut-turut, auranya akan melemah. Tapi mengapa auranya justru semakin kuat seiring berjalannya pertarungan?"
Zhou Chunlei tiba-tiba teringat bahwa pria itu tadi menghilang ke toilet selama seperempat jam. "Jangan-jangan bule ini pergi menggunakan obat-obatan terlarang?"
Pukulan demi pukulan mendarat rapat di tubuhnya. Gu Zhenlin menekuk lututnya dan melindungi kepalanya dengan postur bertahan, menatap tajam melalui celah lengannya untuk mencari celah kelemahan sang lawan.
Tepat saat hujan pukulan itu sedikit mereda, Gu Zhenlin langsung melancarkan serangan. Satu tangannya mencengkeram pukulan *hook* yang baru diayunkan separuh jalan, menggunakan kekuatan tersembunyi (*an jin*) untuk menekan dan menariknya kembali, sementara kepalan tangannya yang lain melesat dengan kekuatan jarak dekat (*cun jin*), mengarah langsung ke dada lawannya.
Mata Yao Runan di bawah panggung langsung berbinar terang. Dari posisi bertahan langsung bertransisi menjadi tangkisan dan pukulan memutar—sangat mulus.
Pukulan itu menghantam dada lawannya, namun ekspresi kesakitan yang ia bayangkan tidak kunjung muncul. Lawannya hanya tertegun sejenak, lalu tangan lainnya melayangkan pukulan lurus yang menghantam telak leher Gu Zhenlin.
"Bugh!"
Akibat pukulan telak itu, kepala Gu Zhenlin langsung berdengung hebat.
Pendengarannya mendadak kabur, pandangannya dipenuhi bintik-bintik cahaya emas, dan keseimbangannya langsung hilang.
Setelah itu, yang terdengar hanya suara tiupan peluit yang tajam.
"Sialan! Dia memukul leher!"
"Keparat!"
"Foul! Pelanggaran!"
Teriakan amarah meluap dari para penonton di bawah panggung. Zhou Chunlei juga buru-buru menerobos naik dan memapah Gu Zhenlin turun dari panggung.
"Guru Gu, Guru Gu, kau tidak apa-apa?"
Gu Zhenlin terdiam cukup lama hingga pandangannya yang kabur perlahan-lahan kembali fokus.
"Sial, aku terlalu ceroboh."
"Pantatku! Mana bisa disebut ceroboh? Dipukul di dada tapi hanya tertegun sebentar? Bule keparat ini pasti sudah menenggak obat pereda nyeri!"
Di atas ring, pria kulit putih itu masih berusaha membela diri, bersikeras bahwa yang ia pukul adalah dagu, bukan leher. Ia berdalih lawannya sendiri yang menyodorkan lehernya ke depan, padahal ia berniat memukul dagunya...
Alasan itu membuat urat di dahi sang wasit menonjol karena menahan amarah.
Zhou Chunlei memeriksa tubuh Gu Zhenlin dengan cermat, takut pemuda itu mengalami cedera serius.
Jika terjadi masalah yang menghambat proses syuting, maka kesalahannya akan menjadi sangat besar.
Wajah, leher, dada, lengan...
"Guru Gu, kenapa lenganmu jadi lebam begini?"
Gu Zhenlin tertegun sejenak, lalu menoleh ke arah lengan atasnya dan mendapati ada memar besar di sana.
Ini jelas bukan bekas pukulan barusan. Bertengkar dengan Jiang Xin pun tidak sampai melukai lengannya, dan latihan bela diri bersama Tua Zhou terakhir kali sudah berlalu dua bulan yang lalu. Sebaliknya, justru saat bertarung melawan bayangan halusinasi itulah ia beberapa kali terkena tendangan...
Memikirkan hal itu, pupil mata Gu Zhenlin tiba-tiba melebar.
Apakah itu ulah si bayangan halusinasi?
Halusinasi palsu menghasilkan cedera sungguhan?
Aku berhasil menipu otakku sendiri? Membuat tubuhku benar-benar percaya bahwa ia terluka?
Seperti sebuah pencerahan kilat, Gu Zhenlin terbangun dari mimpinya. Inti dari "penipuan diri sendiri" yang selama beberapa bulan ini gagal ia pahami akhirnya berhasil ia tangkap benang merahnya.
"Guru Gu, ayo laporkan bule keparat ini agar dites doping!"
"Tunggu sampai aku menyelesaikan ronde ketiga."
Gu Zhenlin bangkit dengan sempoyongan sambil memijat lehernya. "Sekalipun dia menenggak obat, itu tidak akan menghalangiku untuk menghajarnya."
Di tengah tatapan terkejut Zhou Chunlei, Gu Zhenlin memanjat naik ke atas ring dan melepas baju atasannya, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kokoh dan tegap.
"Anak muda, dia sudah melakukan pelanggaran, kau tidak perlu melawannya lagi."
"Aku harus melawannya." Gu Zhenlin menepuk bahu sang wasit. "Tolong tanyakan padanya, aku memaafkan tindakannya yang memukul leherku tadi, tetapi ronde ini aku ingin pertarungan tanpa batas."
Pertarungan tanpa batas...
Sudut bibir sang wasit berkedut. Jika diizinkan menyerang titik-titik vital, kau justru akan tumbang lebih cepat.
Ia berniat memperingatkan pemuda itu agar tidak mencari mati, namun nasihat yang baik memang sulit menyadarkan orang yang berkeras ingin mati.
Sang wasit menghela napas, lalu menyampaikan permintaan Gu Zhenlin. Lawannya pun langsung menyetujuinya dengan senang hati.
Petarung berbadan besar asal barat itu melakukan pemanasan dengan gerakan lompat-lompat kecil, lalu mengobrol sejenak dengan wasit sebelum wasit tersebut berkata, "Dia bertanya kenapa kau melepas bajumu? Bukankah kalian para praktisi kungfu bertarung dengan mengenakan pakaian?"
"Aku takut darahnya cipratan ke bajuku."
Gu Zhenlin menangkupkan kedua tangannya memberi hormat. Namun, keributan langsung meledak di antara para penonton.
Ada cukup banyak praktisi bela diri yang hadir di tempat itu, sehingga mereka tentu bisa melihat bahwa kuda-kuda Gu Zhenlin menunjukkan tangan kiri sebagai kepalan dan tangan kanan sebagai telapak terbuka.
Zhou Chunlei yang berdiri di tepi panggung tampak kebingungan. Apa maksudnya ini? Bertarung hidup mati?
Dia tentu tahu arti dari salam pertarungan hidup mati, namun selama lebih dari empat puluh tahun hidup di dunia ini, ini adalah pertama kalinya ia melihatnya secara langsung di dunia nyata.
Keriuhan penonton semakin menjadi-jadi, sementara pria kulit putih itu menatap sekeliling dengan ekspresi bingung.
"Jepret~"
Gu Zhenlin maju dua langkah dan menjentikkan jarinya untuk menarik kembali perhatian sang pria kulit putih. Pada saat bersamaan, ia merasakan aliran hawa panas bergejolak di bagian dalam betisnya, merambat naik sepanjang pahanya menuju perut, berkumpul di jalur meridian *Zu Taiyin*, lalu melewati dada dan bertemu di leher.
Meridian *Yinwei*, terbuka.
Adrenalin melonjak drastis, merangsang sistem saraf pusat dan memicu pelepasan neurotransmiter...
Napas Gu Zhenlin menjadi semakin cepat, dan ia merasa sekujur tubuhnya seperti sedang terbakar.
Menatap pria kulit putih yang tampak meremehkannya di seberang sana, ia menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih, sementara sorot mata yang penuh niat membunuh terpancar dari matanya.