Bab 15: Tidak Akan Bercerai Dengannya
Ye Shan menatap Shen Mubai dengan penuh rasa enggan, “Besok aku harus pulang.”
“Ya, itu juga baik, aku juga tidak punya waktu untuk menemanimu jalan-jalan,” jawab Shen Mubai dengan ringan.
Hati Ye Shan terasa tidak enak. Ia menatap pria yang dicintainya itu dan mendadak merasa pria ini begitu sulit dimengerti, seperti sebuah teka-teki.
Padahal ia sudah kembali dan ia sudah berjanji akan menikahinya, tetapi Shen Mubai tak pernah sekalipun menyentuhnya.
Seorang pria harus punya pengendalian diri sekuat apa hingga sanggup menahan diri untuk tidak menyentuh wanita yang sudah datang sendiri ke pelukannya?
Jika ia mencintai Ye Qing, tentu ia tak akan menceraikannya. Tapi kalau ia mencintainya, mengapa ia tak mau lagi bersamanya?
Ia menatapnya lama-lama, matanya mulai berair.
Melihat itu, Shen Mubai bertanya, “Kenapa?”
Ye Shan memeluk leher Shen Mubai, tampak begitu sedih, air mata pun mulai menetes, wajahnya tampak sangat menyedihkan.
“Mubai, kalau kau memang tak ingin bercerai, aku bisa menerimanya. Asal aku bisa terus di sampingmu. Tanpamu, aku tak bisa hidup.”
Tanpamu, aku tak bisa hidup.
Hati Shen Mubai terasa perih. “Jangan katakan hal seperti itu.”
“Kakak tak pernah mau bercerai, aku sangat takut.”
“Aku akan membuatnya mau bercerai.”
“Benarkah?”
Shen Mubai menenangkannya, “Iya, jangan terlalu dipikirkan. Soal Ye Qing yang menyuruhmu ikut kencan buta, jangan diambil hati.”
Ye Shan mengusap hidungnya, “Kalau nanti kau sudah bercerai, kita menikah saja, ya?”
Shen Mubai terdiam sejenak, lalu berkata, “Baik.”
“Nanti aku ingin pernikahan yang megah, semewah pesta pernikahan kakak.”
Shen Mubai pun melamun sejenak. Saat menikah dengan Ye Qing dulu, ia tak pernah mengadakan pesta yang mewah.
Hanya ada dua buku nikah, sepasang cincin, dan tak ada lagi yang lain.
Ye Qing sepertinya tak pernah meminta apa pun darinya.
Melihat Shen Mubai termenung, Ye Shan mendorongnya pelan, “Bagaimana?”
Shen Mubai tersadar, “Tentu.”
...
Sekitar pukul sepuluh malam, Ye Qing menerima telepon dari Tao Wanru.
Ia cukup terkejut, karena ibu mertuanya itu memang tak pernah menyukainya, jadi mereka sangat jarang bertemu.
Kali ini tiba-tiba ia dipanggil pulang ke rumah lama, saat Shen Mubai tidak di rumah, jelas sekali ada maksud tersembunyi.
Setelah bersiap, ia mengemudikan mobil kembali ke rumah lama.
Di depan gerbang rumah tua itu terparkir sebuah mobil yang dikenalnya—mobil Ye Shan.
Hah, rupanya cepat juga ia pulang.
Tiga wanita dalam satu panggung, sepertinya malam ini ia memang diundang untuk menyaksikan sebuah sandiwara.
Ia membuka pintu mobil, melangkah masuk ke dalam rumah sambil tersenyum.
Tao Wanru duduk di sofa, di sampingnya duduk Ye Shan yang tampak begitu bangga, seolah-olah menantu kesayangan. Sementara dirinya malah seperti orang luar.
Melihat wajah kedua wanita itu, Ye Qing hanya merasa geli.
Satu adalah adik yang dulu sangat ia sayangi, satu lagi ibu dari pria yang paling ia cintai. Tapi bila bersama, mengapa terasa sangat canggung?
“Ibu, panggil saya pulang, ada keperluan apa?”
“Ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan.”
“Apa itu?” Ye Qing melihat ke sekeliling, Shen Hanzi tak tampak. Ia pun bertanya, “Ayah di mana?”
Tao Wanru menjawab dengan kesal, “Dia menjenguk nenek, hari ini tidak di rumah. Duduklah.”
Ye Qing duduk di samping Tao Wanru, bibirnya tersenyum tipis. Melihat sikapnya yang tenang, Tao Wanru malah semakin kesal.
Seandainya dua tahun lalu ia tahu, takkan ia biarkan wanita ini masuk ke rumah ini.
Dua tahun menikah, satu anak pun tak lahir juga. Kini Shen Mubai ingin bercerai, ia tetap bersikeras menolak, menyebalkan sekali!
“Mumpung Mubai sedang dinas ke luar kota, ada beberapa hal ingin ibu bicarakan secara terbuka.”
“Ibu, kalau memang ada yang ingin dibicarakan, perlu juga di depan orang luar?” tanya Ye Qing sambil tersenyum.
Tao Wanru menanggapi dengan sindiran dingin, “Sudah jelas semua orang paham, dia ada atau tidak sama saja.”
Ia tanpa sungkan membongkar topeng di wajah Ye Qing, ingin mempermalukannya.
Wajah Ye Qing mendadak tegang, senyumnya pun lenyap.
Ia tidak akan pernah mau bercerai dengan Shen Mubai.
Orang bilang, apa pun harus diberi jalan pulang, agar kelak bisa bertemu baik-baik. Namun jika Tao Wanru ingin membuka semua, ia pun tak perlu lagi berpura-pura.
“Apa yang ingin ibu sampaikan, silakan langsung.”
“Aku dengar akhir-akhir ini Mubai sering membicarakan perceraian denganmu.”