Bab 14: Apakah kau tampak seperti seorang wanita?
“Bagaimana kalau aku datang menemuimu?”
Mendengar ucapan itu, Shen Mubai tak kuasa menahan tawa sinis. “Kau mau datang untuk apa? Membawa kehangatan?”
“Benar. Adikku yang kurang ajar itu, sudah menempuh ribuan kilometer pun tak ada yang mau menerimanya. Aku sungguh ingin menghiburnya, sekalian melihat apakah kau butuh didinginkan.”
“Ye Qing, apakah kau benar-benar wanita?”
Ye Qing tertawa pelan. “Aku ini wanita atau bukan, suamiku sendiri yang paling tahu, bukan?”
Shen Mubai tak membalas lagi dan menutup telepon.
Setelah memastikan Shen Mubai takkan melakukan apa-apa dengan Ye Shan, suasana hati Ye Qing mendadak ceria. Ia meletakkan ponsel dan kembali memainkan piano.
Lagu pernikahan dalam mimpi.
Dulu, ia pernah mewakili sekolah dalam sebuah acara musik dan lagu yang ia mainkan adalah lagu ini. Di acara itulah ia pertama kali bertemu Shen Mubai.
Pertama kali melihat Shen Mubai, ia terpaku menatapnya.
Kulitnya putih bersih, wajahnya halus, penampilannya tampan dan menawan, namun di balik ketampanannya, ada kelembutan yang membuatnya semakin menarik. Saat ia tersenyum, matanya seperti bulan, dan ketika memandangnya, ada bintang-bintang berkilau di dalamnya.
Sejak saat itu, ia mulai menyukai Shen Mubai. Kala itu, ia begitu polos, tanpa sedikit pun rasa waspada, lalu memberitahu Ye Shan tentang perasaannya.
Ye Shan iri padanya, memaksa ingin bertemu Shen Mubai. Karena iba, ia pun menyetujui permintaan itu.
Namun setelah Shen Mubai mengenal Ye Shan, segalanya berubah.
Andai ia tahu semua akan menjadi seperti sekarang, sekalipun Ye Shan menodongkan pisau di lehernya, ia takkan pernah mengenalkan mereka berdua.
Padahal ia sudah berusaha keras mengejar Shen Mubai, tapi pada akhirnya Shen Mubai tetap jatuh cinta pada Ye Shan.
Saat itu ia berhati baik, tak pernah berebut, hati malaikat membuatnya di satu sisi cemburu pada Ye Shan, namun di sisi lain tetap mendoakan kebahagiaan Ye Shan.
“Kakak, aku benar-benar sangat menyukai Mubai, dan dia juga menyukaiku.”
“Kalau saling suka, ya jalin saja hubungan.”
“Kakak, hari ini aku mau kencan, sebaiknya pakai baju apa? Atau, pinjamkan saja bajumu untuk kupakai, ya?”
“Baik, pakailah.”
“Kakak, Mubai menyatakan cinta padaku.”
“Itu bagus, semoga kalian bahagia.”
Ia masih ingat betapa perih hatinya mendengar ucapan-ucapan Ye Shan, namun demi Shen Mubai, ia selalu mengalah.
Kini, jika dipikir-pikir, semuanya terasa begitu ironis. Orang baik mudah diinjak, kuda jinak mudah ditunggangi, itulah dirinya.
Dentang piano terhenti. Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan untuk Ye Shan:
Besok malam pukul enam tiga puluh, temui keluarga Gu. Kalau kau tidak datang, itu berarti tak menghargai keluarga Gu. Keluarga Ye akan terkena dampaknya. Aku tak peduli, aku masih punya Shen Mubai. Selama aku tak mau bercerai, aku tetap punya bagian dari warisan keluarga Shen, sementara kau takkan mendapat apa pun.
Ye Shan sedang kesal karena Shen Mubai tidak memperdulikannya. Melihat pesan Ye Qing, ia makin marah.
Berani-beraninya dia mengancamku?
Namun mengingat sikap Shen Mubai hari ini, hatinya jadi tak tenang. Jika keluarga Gu benar-benar sekuat itu, dan keluarga Ye terkena imbas, ia dan ibunya hanya bisa hidup susah. Ia pun tahu Ye Qing tidak sebodoh itu untuk menanggung hidupnya dan ibunya.
Memang, Ye Qing tidak akan melakukan itu.
Ia sudah memperhitungkan bahwa Ye Shan tidak akan rela kehilangan warisan keluarga Ye.
Ye Shan yang terlalu lama di luar negeri, sama sekali tak paham situasi di dalam negeri, ditambah lagi, ia memang agak bodoh.
Nyatanya, strategi itu berhasil. Tak lama berselang, ia menerima balasan dari Ye Shan:
Perempuan jalang, tunggu saja, aku pasti akan pulang. Harta keluarga Ye milikku, begitu pun Shen Mubai.
Melihat pesan di ponsel, bibirnya terangkat membentuk senyum sinis.
Ye Shan harus menikah, dan Shen Mubai tak boleh disentuhnya. Warisan keluarga Ye, sepeser pun takkan jatuh ke tangannya.
Ye Shan menatap pesan di ponsel, amarahnya membara, tak tahu harus dilampiaskan ke mana.
Siapa sangka, Ye Qing yang dulu manja dan lembut, kini berubah seperti ini? Berani sekali melawannya tanpa ragu.
Ia turun dari ranjang, berjalan ke depan pintu kamar Shen Mubai dan mengetuknya. Shen Mubai membuka pintu, menatapnya.
“Ada apa?”