Bab 15 Ingin Menguras Tenagaku?
Cahaya pagi menyinari ruangan.
Lin Nuo telah menyiapkan sarapan. Setelah mereka selesai makan, ia merapikan dapur.
Gu Ci bangun dari tidurnya. Ia menatap punggung Lin Nuo yang sibuk bekerja dengan perasaan yang begitu tenang dan nyaman. Kehidupan seperti ini hanyalah hari yang sangat biasa dalam tiga tahun kebersamaan mereka.
Gu Ci telah terbiasa dengan hari-hari yang dilalui bersama Lin Nuo.
Pria bertubuh tinggi itu melangkah masuk ke dapur, membuat ruangan tersebut seketika terasa sempit. Ia memeluk pinggang Lin Nuo dari belakang, menyandarkan dagunya di ceruk bahu wanita itu, lalu menghela napas panjang.
"Sungguh menyenangkan memiliki dirimu di sisiku..."
Hati Lin Nuo terasa tertohok oleh sesuatu. Ia menyunggingkan senyum tipis, "Aku harus berganti pakaian, aku akan berangkat kerja."
Gu Ci melepaskan pelukannya, "Aku akan mengantarmu."
Keduanya melangkah keluar bersama. Saat menuruni tangga, Gu Ci menggenggam tangan Lin Nuo, menjalin jemari mereka dengan erat.
Mata Lin Nuo terasa panas. Ia menatap pria itu, "Apakah kau tidak takut terlihat oleh orang lain?"
Gu Ci meliriknya sekilas, "Malam nanti aku akan menjemputmu pulang kerja, pindahlah ke tempatku."
Bersama dengan Lin Nuo terasa nyaman dan membuat ketagihan. Ia tidak ingin melepaskannya.
Sesampainya di depan mobil, Lin Nuo melepaskan genggamannya. Suaranya terdengar berat, "Seperti yang kau lihat sendiri, aku memiliki keluarga yang seperti lintah darat. Mereka akan menguras darah dan dagingku, jika ini terus berlanjut, cepat atau lambat mereka akan mencarimu."
Gu Ci bersandar di mobil sambil memainkan pemantik api. Pria yang tampak berkelas dengan mobil mewah itu, bahkan hanya dengan berdiri saja sudah terlihat seperti pemandangan yang memikat.
Ia tertawa dengan santai, suaranya terdengar rendah, "Ingin menguras darahku? Sepuluh orang sepertimu saja tidak akan cukup!"
Wajah Lin Nuo seketika memerah. Ia mendelik kesal ke arahnya. Bagaimana bisa pria ini mengeluarkan rayuan murahan di tempat umum seperti ini?
Lin Nuo memalingkan wajah, "Intinya, aku tidak ingin menyusahkanmu."
"Datanglah jika mereka berani, aku memiliki harta yang melimpah, seberapa banyak darah yang bisa mereka hisap!" Gu Ci berbicara apa adanya.
Namun, Lin Nuo tidak menginginkannya. Nada suaranya terdengar dingin dan tegas saat ia bertanya, "Siapakah aku bagimu? Mengapa keluargaku harus menghisap darahmu?"
Mereka kembali ke masalah ini lagi. Sejak awal, Lin Nuo hanya menginginkan hubungan yang sah dan kepastian.
Gu Ci mendengus dingin, "Lin Nuo, kau pergi kencan buta, aku tidak mempermasalahkannya, tapi jangan sampai terjadi lagi! Jangan mencari masalah!"
Pria itu merasa dirinya sudah cukup bermurah hati, sementara di hadapannya, Lin Nuo merasa lelah karena penjelasannya seolah tidak pernah dimengerti.
"Aku tidak sedang mencari keributan, Gu Ci. Aku benar-benar sudah mempertimbangkannya. Tidak ada masa depan di antara kita, bukankah lebih baik kita akhiri saja dengan tegas?"
Gu Ci menyipitkan matanya. Selama ini, ia pun menyimpan kekesalan di dalam hatinya, "Apakah harus menikah baru bisa disebut masa depan? Tiga tahun ini kau bersamaku, apa yang kurang?"
Ia tidak kekurangan sandang maupun pangan, dan Gu Ci selalu bersikap dermawan. Pria itu sedikit perfeksionis, tidak ada wanita lain di luar sana, kehidupannya bersih. Satu-satunya hal yang ia hindari hanyalah membicarakan pernikahan.
Lin Nuo menarik napas panjang, lalu mengambil keputusan dengan berat hati, "Awalnya aku berencana, setelah kita putus, aku akan memberi diriku waktu untuk menyendiri sebelum menerima orang lain... Jika kau terus memaksaku, baiklah, aku akan segera mencari pria lain, dan aku menantikan hadiah besar darimu saat pernikahanku nanti!"
Lin Nuo hendak beranjak pergi, namun Gu Ci menariknya kembali. Dengan wajah pucat pasi dan gigi yang terkatup rapat, ia berkata, "Lin Nuo, apakah kau datang untuk memberitahuku bahwa kau akan segera mengkhianatiku?"
Lin Nuo menatapnya, "Sudah kukatakan, kita sudah putus! Itu tidak disebut mengkhianati."
"Dan aku juga sudah mengatakannya, aku tidak setuju! Jangan harap kau bisa mencari pria lain!"
Gu Ci menarik lengannya hingga jarak mereka menipis. Sepasang mata gelapnya memancarkan sinyal bahaya saat ia berucap dingin, "Lin Nuo, coba saja jika kau berani mencari pria lain!"
Gu Ci melepaskan tangannya, meninggalkan Lin Nuo yang mematung di tempat.
Ia ketakutan melihat tatapan yang begitu buas itu. Saat SMA, Gu Ci adalah sosok yang disegani dan memiliki pengaruh besar. Kini, setelah terjun ke dunia bisnis, ia bahkan lebih kejam dalam menyingkirkan hambatan di jalannya!
Bahkan jika Gu Ci mengatakan akan membelah dirinya dan 'kekasih gelapnya' menjadi dua, ia akan mempercayainya!
Para penghuni apartemen melirik ke arah mereka, bahkan ada yang berhenti untuk menonton keributan itu. Namun, tatapan dingin Gu Ci yang menyapu ke arah mereka membuat semuanya ketakutan dan lari terbirit-birit.
Gu Ci masuk ke dalam mobil. Mesin Maybach itu meraung dan melesat pergi meninggalkan Lin Nuo. Helaian rambutnya tertiup kencang oleh embusan angin mobil, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar kedinginan.
Hubungan itu berakhir dengan kekecewaan.