Bab 10 Dia Lapar Sepanjang Malam
Dia mengacak-acak rambutnya dengan gusar, lalu berbalik masuk ke kamar mandi untuk meredakan ketegangan tubuhnya.
Benar-benar tidak tahu, sebenarnya siapa yang sedang ia siksa!
Setelah mandi, Gu Ci mengeringkan rambutnya dan berbaring di samping Lin Nuan.
Ponsel Lin Nuan menyala, menarik perhatian Gu Ci. Ia mengambil ponsel itu, menggenggam tangan Lin Nuan, lalu membuka kunci layarnya.
Ternyata hanya notifikasi berita yang tidak penting!
Ia mengeluarkan nomornya sendiri dari daftar blokir. Saat hendak keluar dari daftar kontak, ia kembali masuk dan memberi nama pada deretan angka tersebut—
"Papa."
Gu Ci menyunggingkan senyum.
Saat hendak meletakkan kembali ponsel itu, sebuah pesan WeChat masuk. Ponsel itu bergetar tanpa henti, belasan pesan langsung membanjir masuk.
Gu Ci menekan foto profil 'Lin Yongcai' dan memutar sebuah pesan suara.
Cacian kasar yang sangat menyakitkan telinga hampir saja meledak dari layar, membuat kening Gu Ci berkerut dalam. Ia segera mengecilkan volume suaranya.
Lin Yongcai terus melontarkan makian keji dan mendesak Lin Nuan untuk segera mengirim uang. Karena tidak mendapat balasan, Lin Yongcai terus mengirim pesan tanpa henti.
Gu Ci keluar dari aplikasi, menandai pesan tersebut sebagai belum dibaca, lalu mematikan ponsel itu.
Ia meletakkan ponsel ke samping dan menatap wajah tenang Lin Nuan yang sedang terlelap. Hatinya berdesir pelan.
Tiga tahun lalu, saat pertama kali bertemu Lin Nuan di sebuah restoran Prancis, ia langsung mengenalinya.
Gadis itu adalah putri palsu yang terpuruk, yang diusir oleh keluarga Yan. Selain itu, ia sama sekali tidak tahu apa pun tentang Lin Nuan.
Dengan latar belakang keluarga yang begitu memuakkan, tidak heran jika Lin Nuan harus bekerja keras dan mengambil banyak pekerjaan sampingan. Setiap kali bertemu dengannya pun, selalu terjadi di larut malam.
Hal-hal ini, tidak pernah ia selidiki lebih dalam.
***
Setelah tidur nyenyak sepanjang malam, saat Lin Nuan terbangun, tubuhnya terasa lemas, namun ada sensasi lega seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.
Ia menoleh, dan mendapati wajah tampan Gu Ci yang sedang terlelap tepat di samping bantalnya. Ia sedang didekap erat oleh Gu Ci, napas mereka bahkan saling berbaur.
Di balik selimut, ia menyadari bahwa mereka berdua tidak mengenakan sehelai benang pun, menempel begitu erat. Wajah putih mulusnya seketika memerah padam.
Gu Ci membuka matanya dengan malas, suaranya serak, "Kau sudah baikan?"
Lin Nuan mundur, wajahnya berganti-ganti antara merah dan pucat, ekspresinya tampak canggung.
"Sudah, pergilah."
Gu Ci mencibir, "Ini rumahku!"
Lin Nuan mendorongnya dengan tidak nyaman, "Kalau begitu aku yang pergi."
"Mau pergi ke mana?" Gu Ci menariknya kembali, mendekapnya erat ke tubuhnya. "Aku yang menyelamatkanmu, melayanimu semalaman, Lin Nuan, apakah kau seorang yang tidak tahu berterima kasih?"
Bagian tubuhnya yang panas membuat Lin Nuan terperanjat, wajah kecilnya kini merona merah muda.