Bab 2: Prahara di Haicheng
Li Chenan memilih untuk pergi diam-diam karena untuk sementara dia tidak ingin Li Zhenyi mengetahui bahwa dia telah kembali.
Jarak dari sini ke kediaman keluarga Wen sudah tidak jauh lagi. Li Chenan langsung berjalan kaki ke sana dengan langkah yang sangat cepat.
Beberapa menit kemudian, Li Chenan tiba di kediaman Wen. Menyaksikan pemandangan di depannya, raut wajahnya seketika berubah drastis.
Rumah mewah keluarga Wen yang semula indah kini telah berubah menjadi puing-puing reruntuhan, dengan tembok-tembok yang hancur dan ditumbuhi rumput liar.
"Bagaimana... bagaimana bisa menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?!" Amarah dan kebingungan berkecamuk di dalam hati Li Chenan.
Tiba-tiba, dia mendengar gerakan halus dari kejauhan.
"Siapa itu? Keluar!" bentak Li Chenan dengan tatapan dingin.
Seorang wanita berparas cantik jelita mengenakan pakaian merah segera menghampiri Li Chenan. Dia berlutut dengan satu kaki dengan sikap yang sangat hormat.
"Mudan, Wakil Ketua Istana Seribu Bunga, menghadap Tuan Muda!"
Mendengar itu, Li Chenan sedikit mengernyit sambil menatap wanita berbaju merah tersebut. "Istana Seribu Bunga, salah satu dari seratus kekuatan besar di Sekte Tersembunyi."
Mudan berkata dengan hormat, "Saya menerima perintah dari Ketua Istana untuk datang membantu Tuan Muda."
Bayangan seorang wanita cantik jelita seketika terlintas di benak Li Chenan. Istana Seribu Bunga seluruh anggotanya adalah wanita, dan merupakan salah satu dari tiga organisasi informasi terbesar di Huaxia.
"Buktikan identitasmu!" Li Chenan tidak akan memercayai orang asing begitu saja.
Mudan menggigit bibirnya tanpa ragu, lalu menyingkap pakaian atasnya, memperlihatkan lambang Istana Seribu Bunga di dadanya. Setangkai bunga peony berwarna merah darah.
"Cukup."
Setelah memastikan identitas wanita itu, Li Chenan segera berbalik badan. Rona merah melintas di wajah Mudan saat dia dengan cepat mengenakan kembali pakaiannya.
"Karena kamu adalah anggota Istana Seribu Bunga, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa kediaman Wen bisa menjadi seperti ini?" tanya Li Chenan sambil menatap reruntuhan di depannya.
Mudan menjawab, "Melapor kepada Tuan Muda, setengah tahun yang lalu, seluruh anggota keluarga Wen telah dibantai habis!"
Duarr!!!
Mendengar kabar ini, Li Chenan bagaikan tersambar petir di siang bolong. Tubuhnya bergetar hebat, dan hawa membunuh yang mengerikan meledak dari dirinya.
Mudan yang berdiri di sampingnya seketika diselimuti oleh hawa membunuh yang mengerikan itu, membuat wajahnya pucat pasi dan merasa seolah bisa mati lemas kapan saja.
Keluarga ibu angkatnya telah dibantai habis!
"Siapa yang melakukannya?!"
Amarah Li Chenan membubung tinggi ke langit, ingin rasanya dia mencabik-cabik dan menghancurkan tulang belulang sang pelaku hingga menjadi abu!
"Maafkan kami, Tuan Muda. Istana Seribu Bunga masih dalam proses penyelidikan," Mudan menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah. "Namun, kami menemukan bahwa Nona Besar keluarga Wen, Wen Shuman, masih hidup."
Wajah Li Chenan seketika berubah gembira. "Kamu bilang ibu angkatku masih hidup?!"
"Benar, ibu angkat Tuan Muda masih hidup," kata Mudan.
Li Chenan mendesak, "Di mana ibu angkatku sekarang?"
Ekspresi Mudan tampak aneh dan dia terlihat ragu-ragu, seolah ada sesuatu yang dia takuti.
"Cepat katakan!" bentak Li Chenan.
Mudan menggigit bibirnya perlahan, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu memutar sebuah video.
"Tuan Muda, Anda harus mempersiapkan mental."
Di dalam video tersebut, muncul wajah yang sangat familier bagi Li Chenan. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang compang-camping. Kulitnya yang semula seputih salju kini dipenuhi dengan luka-luka.
Dia dikurung di dalam sebuah kerangkeng besi, dengan sebuah kerah melingkar di lehernya, diperlakukan layaknya seekor anjing.
"Wen Shuman, bukankah kamu sangat hebat? Siapa sangka suatu hari nanti kamu akan menjadi seperti anjing!"
"Hahaha!"
Seorang wanita lain muncul dalam video. Di tangannya tergenggam sebuah cambuk yang dipenuhi duri tajam. Dia mengayunkannya dengan keras, menghantam tubuh Wen Shuman hingga menimbulkan suara cambukan yang nyaring.
Tubuh Wen Shuman berlumuran darah segar, dan dia menjerit kesakitan.
"He Danhong, jika kamu punya nyali, bunuh saja aku!" Sepasang mata indah Wen Shuman dipenuhi dengan kebencian saat dia menatap tajam ke arah wanita itu dan berteriak dengan suara serak.
"Membunuhmu? Tidak, tidak, tidak. Aku ingin menyiksamu perlahan-lahan! Aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang lebih buruk daripada kematian!"
Cambuk di tangan wanita itu kembali melayang.
Video itu pun tiba-tiba terhenti.
Krek!
Ponsel itu langsung hancur berkeping-keping dalam genggaman Li Chenan.
Sorot mata Li Chenan yang seperti bintang kini berubah menjadi merah darah, bagaikan titisan Dewa Syura.
Amarah yang membara memenuhi jagat raya, memancarkan hawa membunuh yang tak terbatas!
"Aaaa!!!"
Hawa membunuh yang mengerikan meledak dari tubuh Li Chenan, membuat tanaman dan pepohonan di sekitarnya hancur menjadi abu.
Wajah Mudan memucat.
"Tuan Muda, mohon tenang!"
Dengan wajah yang mengerikan karena murka, Li Chenan menatap Mudan dan berteriak keras, "Siapa wanita itu? Aku akan membunuhnya! Aku akan mencabik-cabik tubuhnya menjadi jutaan keping!"
"Dia adalah putri sulung dari keluarga He, salah satu dari empat keluarga besar di Kota Haicheng, yang bernama He Danhong."
"Video itu diperoleh oleh Istana Seribu Bunga kami setengah bulan yang lalu. Kami segera pergi untuk menyelamatkan Nona Besar, tetapi kami mendapati beliau sudah tidak ada di sana."
"Keluarga He, He Danhong!" Li Chenan mengepalkan kedua tinjunya erat-erat dan berkata sambil menggertakkan gigi, "Katakan padaku, di mana He Danhong?"
"Hari ini kebetulan adalah hari pernikahan He Danhong. Dia sedang menggelar pesta pernikahannya di Hotel Internasional Haicheng," kata Mudan.
Belum sempat kata-kata itu selesai diucapkan, sosok Li Chenan sudah lenyap dari pandangan. Mudan hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menyusulnya.
Hotel Internasional Haicheng, di dalam aula perjamuan yang paling mewah.
Hari ini, hampir semua orang kaya dan kalangan atas di Kota Haicheng berkumpul di sini. Mereka datang untuk menghadiri pernikahan putri sulung keluarga He, He Danhong.
Keluarga He adalah salah satu dari empat keluarga besar di Haicheng yang memiliki kekuasaan luar biasa. Karena putri sulung keluarga He menikah, mereka tidak punya pilihan selain datang untuk memberikan penghormatan.
Upacara pernikahan telah dimulai di bawah tatapan semua hadirin.
He Danhong mengenakan gaun pengantin putih bersih dengan riasan wajah yang anggun. Kulit dan tubuhnya terawat dengan sangat baik, membuatnya tampak baru berusia awal tiga puluh tahun. Dia mengangkat kepalanya tinggi-giang bagaikan seekor angsa putih, sementara lengannya digandeng oleh seorang pria paruh baya yang berwibawa, berjalan perlahan menuju altar.
Pria paruh baya di samping He Danhong adalah ayahnya, kepala keluarga He saat ini, He Mingwei.
Dia menyerahkan tangan putrinya ke tangan pengantin pria yang masih muda.
Segera setelah itu, He Mingwei mengambil mikrofon, mengedarkan pandangannya ke seluruh tamu undangan yang terdiri dari orang-orang kaya dan ternama, lalu berbicara, "Terima kasih kepada semua hadirin yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahan putri kesayangan saya hari ini!"
Para tamu di bawah panggung beramai-ramai memberikan ucapan selamat. Semoga langgeng hingga akhir hayat, selamat menempuh hidup baru, semoga selalu sehati, cepat dikaruniai momongan...
Namun, senyum yang tersungging di wajah He Danhong tampak sangat terpaksa.
Tak lama kemudian, pernikahan mencapai momen paling krusial, yaitu saat kedua mempelai saling bertukar cincin.
Namun, tepat pada saat itu.
Pintu aula perjamuan mendadak hancur berkeping-keping dengan suara dentuman keras setelah ditendang dari luar!
Menyusul kemudian, sebuah suara penuh amarah dan hawa membunuh terdengar menggema, "He Danhong, keluar dan jemput ajalmu!"
Mendengar suara ini, semua orang yang hadir tertegun seketika, dan ruangan langsung menjadi sunyi senyap.
Pandangan semua orang tertuju ke arah pintu masuk aula perjamuan.
Tampak seorang pemuda berpakaian hitam berjalan masuk dengan perlahan. Wajahnya setampan batu giok, tatapannya dingin, dan tubuhnya memancarkan aura misterius yang jahat.
Setiap langkah yang dia ambil membuat hawa membunuh di tubuhnya meningkat satu tingkat, bagaikan Dewa Kematian yang turun ke bumi.
Siapa dia?
Pertanyaan itu langsung muncul di benak semua orang yang hadir.
He Danhong menatap pemuda berpakaian hitam yang tiba-tiba muncul itu dengan wajah dingin dan hati yang dipenuhi amarah. Berani-beraninya ada orang yang mengacaukan pernikahannya, ini benar-benar cari mati!
Li Chenan menatap tajam wanita bergaun pengantin putih di atas panggung. Tidak diragukan lagi, orang ini adalah He Danhong.
Sejak kecil Li Chenan kekurangan kasih sayang seorang ibu, dan dia sudah menganggap Wen Shuman sebagai ibu kandungnya sendiri.
Jika Li Chenan tidak membunuhnya, kebencian di dalam dadanya tidak akan pernah padam.
"Dari mana datangnya bocah ingusan ini, berani sekali membuat kekacauan di sini. Apa kamu sudah bosan hidup?!" ujar seorang pemuda kaya generasi kedua yang berdiri dekat dengan Li Chenan, menatapnya dengan penuh keangkuhan.
Namun, sebelum kata-katanya selesai diucapkan, bayangan Li Chenan berkelebat. Bagaikan hantu, dia seketika muncul di hadapan pemuda itu. Tanpa basa-basi, sebuah pukulan keras langsung menghantamnya hingga terpental jauh.
Pemuda kaya itu menghantam dinding dengan sangat keras, memuntahkan darah segar dengan organ dalam yang terluka parah. Dia menjerit kesakitan yang menyayat hati sebelum akhirnya langsung pingsan tak sadarkan diri beberapa saat kemudian.
Adegan berdarah dan mengerikan ini mengejutkan banyak orang. Beberapa pemuda kaya yang awalnya ingin pamer dan cari perhatian segera mundur kembali, membatalkan niat mereka.
Saat ini, wajah kepala keluarga He, He Mingwei, tampak sangat masam. Berani sekali seseorang mengacaukan pernikahan putrinya, bahkan sampai menumpahkan darah di hari yang penuh kebahagiaan ini.
Dengan wajah muram, dia berteriak marah, "Pengawal, tangkap bajingan ini!"
Detik berikutnya, belasan pengawal keluarga He berhamburan keluar, langsung menyerang Li Chenan untuk membunuhnya.
Duarr!!!
Cahaya spiritual hitam terpancar hebat dari tubuh Li Chenan. Dia melayangkan satu pukulan, melepaskan puluhan bayangan tinju yang mengerikan. Dada seluruh pengawal keluarga He seketika berlubang besar dan bersimbah darah. Mereka roboh ke tanah, kehilangan nyawa seketika.
Li Chenan menghabisi belasan pengawal keluarga He hanya dalam satu pukulan.
Pemandangan yang begitu berdarah ini membuat wajah para hadirin pucat pasi dan dipenuhi ketakutan, bahkan beberapa di antaranya langsung muntah di tempat.
He Mingwei menatap tajam pemuda berbaju hitam di hadapannya dengan wajah kesal.
He Danhong juga menunjukkan ekspresi yang sama, namun dia merasa pemuda berbaju hitam ini tampak tidak asing.
"Siapa sebenarnya kamu?"
Li Chenan tampak dingin, menatap He Danhong dengan mata penuh kebencian. "Apa kesalahan ibuku kepadamu hingga kamu tega menyiksa dan menghinanya seperti itu?!"
He Danhong tertegun sejenak mendengar hal itu. Dia mengamati Li Chenan selama beberapa saat sebelum akhirnya teringat, "Aku ingat sekarang! Kamu adalah anak angkat tidak berguna dari jalang Wen Shuman itu! Siapa sangka kamu ternyata masih hidup!"
"Aku akan membunuhmu!"
Amarah Li Chenan meledak mendengar wanita itu kembali menghina ibunya. Dia langsung menerjang ke arah He Danhong.
"Gui Xiong!" teriak He Mingwei keras.
Detik berikutnya, sesosok tubuh kekar segera melesat keluar. Pria dengan tinggi lebih dari dua meter itu berdiri menghalangi jalan Li Chenan.
Hawa membunuh terpancar kuat dari tubuhnya. Sambil menyeringai dingin, dia berkata, "Anak muda, jangan terlalu impulsif. Keluarga He bukanlah pihak yang bisa kamu singgung."
Para hadirin di aula perjamuan langsung heboh dan berbisik-bisik begitu melihat sosok bertubuh kekar itu muncul.
"Dia adalah Gui Xiong, salah satu dari sepuluh buronan paling dicari di Huaxia."
"Kudengar dia adalah pembunuh berdarah dingin yang sangat kejam. Dia telah membantai beberapa keluarga dan merenggut nyawa ratusan orang tak berdosa."
"Aku pernah melihat poster buronan Gui Xiong, memang benar dia orangnya."
"Siapa sangka buronan kelas kakap seperti dia ternyata bekerja untuk keluarga He. Dengan perlindungan dari keluarga He, tidak heran jika Kepolisian Huaxia tidak pernah bisa menangkapnya."
He Mingwei memberi perintah, "Gui Xiong, jangan bunuh dia dulu, buat saja dia cacat."
"Baik."
Gui Xiong menyanggupi. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Li Chenan dengan senyuman kejam yang menghiasi wajahnya bagaikan iblis, matanya dipenuhi dengan kehausan akan darah.
"Sudah lama aku tidak bertarung, tanganku sudah sangat gatal!"
Gui Xiong melayangkan pukulan dahsyat. Tinjunya yang sebesar kepalan kuali membelah udara dengan suara desingan angin yang tajam. Jika pukulan ini mendarat, korbannya pasti akan mati atau cacat seumur hidup.
Tepat ketika semua orang mengira Li Chenan akan hancur oleh pukulan tersebut, Li Chenan hanya mengangkat lengannya yang tampak agak kurus dengan santai, lalu menahan tinju Gui Xiong dengan telapak tangannya.
Duak!
Krek!
Bersamaan dengan saat dia menahan tinju tersebut, Li Chenan meremasnya perlahan. Tulang tangan Gui Xiong seketika hancur, mengeluarkan suara patahan yang renyah.
Tidak sampai di situ, Li Chenan menepis tangan Gui Xiong lalu melayangkan satu tamparan dengan punggung tangannya. Bayangan telapak tangan yang mengerikan tercipta dan menghantam dada Gui Xiong.
Pruuuaht!
Gui Xiong memuntahkan darah segar. Dadanya yang kokoh langsung melesak ke dalam, dan tulang rusuknya yang patah langsung menusuk jantungnya. Terlihat tulang rusuk yang berlumuran darah menembus keluar dari punggungnya, sebuah pemandangan yang teramat mengerikan.
Gui Xiong membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap Li Chenan dengan tidak percaya. Namun, dia tidak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya perlahan tumbang ke tanah, kehilangan seluruh tanda kehidupan.
Salah satu dari sepuluh buronan paling dicari di Huaxia, seorang pembunuh berdarah dingin bernama Gui Xiong yang tangannya telah berlumuran darah ratusan orang, tewas seketika hanya dengan satu gerakan di tangan pemuda misterius ini.
Jika tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, mereka pasti tidak akan pernah memercayainya. Semua orang tercengang seketika.
Di saat semua orang masih tertegun, sosok Li Chenan sudah muncul di hadapan He Danhong bagaikan hantu.
Dia langsung mencengkeram leher He Danhong, menariknya dengan kasar hingga wanita itu terjerembab ke lantai. Kemudian, dia menginjak kepalanya dengan satu kaki.
Kepala He Danhong menghantam lantai dengan keras, membuatnya seketika bercucuran darah. Dia menjerit kesakitan.
"Hentikan!!!" teriak He Mingwei panik. Dia langsung menerjang ke arah Li Chenan, berniat untuk mempertaruhkan nyawanya.
Li Chenan langsung melayangkan tamparan keras dengan punggung tangannya ke wajah He Mingwei, membuat kepala keluarga He itu terpental jauh.
He Mingwei terkapar di lantai dengan separuh wajah yang sudah membengkak dan sudut bibir yang berdarah. Wibawanya sebagai seorang kepala keluarga kini telah lenyap tanpa sisa.
Wajah He Danhong tampak mengerikan dan terdistorsi oleh amarah, matanya dipenuhi dengan kebencian.
"Bocah liar, jika kamu punya nyali, bunuh saja aku! Jika tidak, aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang lebih buruk daripada kematian, sama seperti ibumu!"
Li Chenan menambah tekanan pada kakinya, menginjak wajah He Danhong hingga hancur bersimbah darah.
Para orang kaya dan kalangan atas yang menyaksikan kejadian ini tidak bisa menahan napas, merasa merinding di sekujur tubuh mereka. Dalam hati mereka bertanya-tanya, dari mana datangnya dewa kematian yang begitu kejam dan mengerikan ini.
"Anak muda, jangan terlalu impulsif dalam bertindak. Menjadi terlalu berjiwa muda dan berapi-api tidak selamanya merupakan hal yang baik!" Tiba-tiba, sebuah suara yang menggelegar terdengar di dalam aula perjamuan.